Rabu, 15 Oktober 2008

Dampak Krisis Masih Terbatas

Pelaksana Jabatan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sri Mulyani Indrawati meminta agar masyarakat tidak panik menghadapi krisis ekonomi di Amerika Serikat. Sebaliknya kita perlu terus memantau secara lebih cermat dan detil perkembangan seperti apa yang terjadi serta dampaknya bagi kita. Rasanya memang masih sangat terbatas. Banyak di antara kita bahkan tidak tahu dan tidak merasakan dampak krisis keuangan di Amerika Serikat itu. Jadi mengapa diributkan? Yang benar tetaplah ada dampak itu meskipun tidak langsung dirasakan saat ini. Bagaimana pun perlambatan ekonomi global dan pengeringan likuiditas tetap mengancam.
Bagi pemerintah, menjaga stabilitas makroekonomi tetaplah menjadi prioritas di samping mengamankan kebijakan fiskal yakni pelaksanaan APBN 2008 yang dikabarkan juga menghadapi banyak kendala sehingga daya serapnya relatif kecil. Sampai dengan September lalu baru sekitar 50 persen. Dengan langkah-langkah itu dampaknya ke masyarakat bisa dinetralisasi. Laju inflasi cukup dijaga ketat sementara kenaikan sukubunga bank tidak berlanjut. Yang paling dirasakan adalah penurunan kurs rupiah serta anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG). Apa boleh buat gonjang ganjing itu memang terjadi di pasar uang dan pasar modal.
Selain menjaga stabilitas dan mengamankan kebijakan fiskal, pemerintah perlu terus melakukan antisipasi terhadap dampak krisis yang berimbas pada dunia usaha. Kalau sampai ekspor melambat dan investasi tersendat maka itu akan mengganggu target pertumbuhan ekonomi dan juga capaian-capaian lain seperti defisit anggaran, defisit neraca perdagangan dan sebagainya. Kondisi perbankan juga memerlukan perhatian khusus. Namun sejauh ini, menurut Gubernur Bank Indonesia Boediono, tak ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan mengingat tingkat kesehatan yang diukur dari Capital Adequacy Ratio (CAR) maupun Non Performing Loan (NPL) relatif baik.

Tidak ada komentar: